Akhirnya Saya Batal Kawin Lagi



Sebenarnya semua ini berawal dari taruhan kecil saya kepada salah satu sales pay tv K-Vision,beberapa minggu lalu ada sales K-Vision yg ke rumah dan menawarkan receivernya sambil bergombal ria,.."kalau bapak tidak membeli sekarang,bapak menyesal loh,bulan depan ( Juni 2014 ) harga naik bapak "...
Dengan nada serius saya jawab,kalau bulan depan menjelang piala dunia 2014 K-Vision berani naik harga,saya nadzar Kawin Lagi.

Mengapa saya berani berkata begitu ? ..tentu dengan pelbagai pertimbangan dan analisa amatiran saya,..dan dengan logika yang paling gampang sekalipun akan sulit di terima akal sehat jika K-Vision berani naik harga..kita kupas secara perlahan saja mengapa saya berani bernadzar Kawin Lagi jika bulan Juni K-Vision naik harga..

>> Jualan utama K-Vision hanyalah World Cup 2014 dan ISL ,selain itu jualan K-Vision adalah sama halnya seperti pay TV yg lain,hanya berkutat di HBO,FOX dkk,BEIN sport dll..

>> K-Vision tidak mempunyai hak siar ISL secara penuh,hanya punya hak siar hingga akhir musim 2013/2014,karena hak siar spenuhnya berada di tangan BVSport,yg notabene milik ARB sang capres GAGAL..

>>Secara kualitas,receiver K-Vision yg type Bromo sangatlah standar (jika tidak mau di bilang jelek),dengan harga 1,2jt rasanya sangat mahal untuk sebuah receiver yg hanya berkualitas MPEG2,walaupun terdapat port HDMI di belakangnya tapi kualitas gambar yg di hasilkan setara dengan receiver di pasaran yg seharga 120rb.

>>Dengan range harga 1.2jt s/d 1.4jt (tergantung daerah),alangkah lebih bijak jika uang saya belikan receiver HD seharga 290rb ( MATIX TURBO HD) dan actuator seharga 310rb kalau hanya sekedar untuk nonton World Cup 2014 secara free..

Statemen bos K-Vision di media cetak sesaat setelah launching,memang betul pengguna parabola berjaring FTA di Indonesia berada di kisaran angka 15jt penduduk/rumah,dan masih banyak potensi yg dapat di raup pay tv dari angka 15jt tersebut.

Tapi jika menilik dari respon para pemilik parabola,bisa di lihat di beberapa FP,mereka sangat antipati terhadap K-Vision,mereka menjadikan K-Vision sebagai musuh bersama,lihatlah betapa semangatnya mereka dengan bantuan para brutter menjebol pertahanan bisskey,betapa semangatnya mereka untuk saling share nonton World Cup 2014 tanpa harus beli receiver K-Vision,satelit mana dan berapa SID serta bisskeynya untuk nonton World Cup dari satelit di Asia secara free..

Ini justru yang menjadi sangat menarik,karena yg menayangkan World Cup bukan hanya K-Vision saja,TV One dan AN TV juga turut menayangkan,dan justru sebenarnya pemegang hak siar World Cup 2014 di Indonesia adalah TV One & AN TV serta tentu saja juga di acak,mengapa justru K-Vision di jadikan musuh bersama?

Ternyata jawaban yg saya temukan sederhana saja,hanya berawal dari BOLA bernama ISL,pay tv manapun boleh menayangkan Liga apapun secara berbayar,asal jangan ISL,itulah kira-kira keinginan para pemilik parabola yg curhat di twitter maupun facebook,ketika mereka terusik dengan kenyataan bahwa mereka kesulitan menonton liga negara mereka sendiri,saat itulah mereka yg merasa senasib bergerak,dengan semangat mereka saling share feed ISL di frekwensi 3960 H 3000 beserta bisskey,dan lambat laun menjadikan K-Vision sebagai musuh bersama.

Efek bola yg bernama ISL ini sungguh luar biasa,ARB 2 tahun yg lalu babak belur di bully via sosmed gara-gara mengacak siaran ISL yg tayang di TV One dan AN TV,tahun ini giliran Harry Tanoe yg di bully karena tayangan ISL via MNC grup juga di acak,dan ancaman potensi kehilangan 12jt suara terbukti,HT dan Wiranto terjungkal suara partainya ( HANURA ) di pemilu tahun ini.

Sebenarnya pay tv di negeri ini sudahlah sangat banyak,tapi yang justru menjadi pertanyaan,mengapa justru banyak yg antipati terhadap K-Vision? ,melihat kondisi dan respon para calon pelanggan yang banyak bertebaran di dumay dan FP,rasanya sangat sulit bagi K-Vision untuk mencapai target penjualan,jadi bisa di pastikan setelah World Cup 2014 selesai,harga K-Vision pasti terjun bebas,so tidak ada alasan yg jelas mengapa K-Vision harus naik harga.

Jadi selama K-Vision masih memperkosa hak rakyat Indonesia untuk menikmati Liga Negeri mereka sendiri,potensi meraup keuntungan dari 15jt pemilik parabola akan sangat sulit,..karena mereka para pemilik parabola sudah melek teknologi,kita membeli barang,bukan merk,dengan 1.4jt kita sudah bisa memiliki 1set parabola kualitas HD dan 700chanel lebih,dengan uang 1.4jt  kalau di belikan receiver K-Vision kita hanya mendapatkan receiver berkualitas Mpeg2 seharga 110rb...pun begitu dengan receiver K-Vision yg bekerja di frekwensi KU Band,K-Vision tidak pernah jujur akan kelemahan KU-Band,ketika mendung tebal dan hujan dengan intensitas kecil pun,signal KU Band akan lost/hilang,ketika anda komplain ke call center,jawaban konyol akan anda dapatkan .." maaf bapak,receiver KU Band bapak sudah di lengkapi dengan teknologi anti petir dan anti badai...bla..bla...ba..."

bah..teknologi anti petir taek jaran,nggak ada ada itu..apapun pay tvnya..jika masih menggunakan LNB KU Band type offset akan lost signal ketika mendung tebal dan turun hujan...

 tapi sekali lagi semua kembali ke pribadi masing-masing,..ini hanya opini pribadi saya..kalau anda yg membaca sadar ya syukur,ga sadar juga gpp,toh itu pilihan masing-masing...!




sampah artikel lainnya:

~new comments~

Make Your Own by widodo