award untuk depdiknas sebagai lembaga pencetak pengangguran terbaik

sebagai seorang blogger dan sebagai budaya yang sudah berkembang di dunia blogger,pemberian award sah-sah saja dan boleh -boleh saja seorang blogger memberi award kepada sesama blogger,walaupun blog saya masih bau kencur tidak berisi apa-apa,tapi saya di halalkan jika saya memberi award kepada google..bahkan memberi award kepada facebook pun di perbolehkan,toh tidak ada aturan yang mengikat bahwa hanya blog berkualitas saja yang boleh memberi award,jadi blog gadungan seperti blog saya juga boleh memberi award...

tapi kali ini saya tidak akan memberi award kepada sesama blogger,ngapain juga memberi award kepada sesama blogger,toh mereka sudah punya compi sendiri,trus buat gambar award sendiri..kalau toh tidak bisa memakai sotoshop mereka bisa copypaste award dari blog luar dan akui saja kalau seolahpolah itu award dari blog amerika,toh tidak akan ada yang menggugat award copypaste...

kali ini award akan saya berikan kepada Depdiknas,sebagai lembaga pencetak pengangguran terbesar di dunia depdiknas layak mendapat award,depdiknas pantas mendapat penghargaan...mengapa mereka pantas medapat award ini? karena seringnya mereka merubah kurikulum,bergantinya menteri berganti pula kurikulum..ingat gembar-gembor CBSA satudasawarsa silam?..atau dasyatnya iklan Kurikulum Berbasis Kopetensi?
semua hanya  tulisan hanya di atas kertas,macan ompong...

bahwa orientasi siswa hanya di tujukan sebagai pencari bukan pembuat memang betul ..masih ingat kata-kata guru saya sejak SD sampai di bangku kuliah..dan itu hampir merata di ucapkan oleh guru di seluruh Indonesia :
"sekolah yang rajin,agar bisa berprestasi agar mudah mencari kerja" ..mengapa kita hanya di ajari mencari kerja?..tidak bisakah para pejabat menciptakan kata "membuat" untuk para siswa?tidak bisakan patern "mencari "di buang dan di ganti dengan "membuat"?

jadi award ini memang tepat,karena lembaga pendidikan di bawah komando depdiknas telah berhasil  membohongi para guru untuk memasukkan intrik licik depdiknas kepada para siswa,bahwa siswa harus rajin,berprestasi agar kelak mudah mencari kerja dan masa depan.
mengapa harus mencari kerja..mengapa tidak ada doktrin mencipta lapangan kerja?..karena para pejabat depdiknas sudah terlalu lama terdoktrin pola pikir penjajah.."bahwa bangsa indonesia adalah pelayan bangsa asing"

siapa pencari kerja terbanyak?
siapa pengangguran terbanyak?

"sekolah bayarnya mahal banget,sudah gitu lulus cari kerja sulitnya minta ampun" ..ini sebenarnya adalah omelan yang tidak perlu,karena sekali lagi anak kita di sekolahkan bukan untuk menciptakan lapangan kerja,kita menyekolahkan anak kita hanya untuk mencari kerja,wong namanya mencari,bisa sulit bisa gampang...jadi depdiknas juga tidak bisa di salahkan dalam hal ini,karena depdiknas tugasnya cuma menciptakan para pencari pekerjaan,bukan menciptakan para "pencipta lapangan kerja".

walaupun tidak menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain minimal menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri,doktrin ini yang seharusnya di masukkan ke otak para siswa.

untuk depdiknas..saya ucapkan selamat karena departemen anda mendapat award dari saya yaitu award " Departemen Pencetak Pengangguran Terbesar di Dunia"


sampah artikel lainnya:

3 Responses so far.

  1. CP says:

    award yang pantas disematkan pada Depdiknas, sistem pendidikan gak jelas, biaya pendidikan tinggi salah satu yg bikin amburadul dunia pendidikan.

  2. Pertama salut dulu dg judulya yg lugas berani!

    Kedua, ini award tambahan dari seorang musuh dalam selimut. Karena saya juga seorang guru. Jadi tahu persis keadaannya. Minimal di sekolah tempat saya mengajar.

    Pendidikan formal itu tidak layak lagi memberi nama gedunnya dengan SEKOLAH. Tetapi adalah lembaga PEMBODOHAN masyarakat. Jika saja kita berani, akan lebih jelas dan kongrit manfaatnya anak-anak kita masuk kursus. Ingin pandai menjahit, ya kursus menjahit 3 bulan lgs pandai menjahit. Ingin pandai komputer, masuk saja les komputer, maka 3 bulan lgs pandai komputer. Ingin bisa membuat website, lgs saja jd blogger. Dan terbukti kita para blogger tdk jebolan universitas website. Kecuali hanya mahasiswa Universitas Blogernas haha..!

    Jadi sudahlah, kapan lagi kita akan membubarkan sekolah?

  3. CP ..Anas..>>> lagi-lagi dengan amat terpaksa saya harug meng-amini pendapat anda berdua...

    sebenarnya sebelum saya memutuskan untuk kem-publish artikel ini sudah terlintas pasti akan ada pro & kontra,apalagi mentor saya juga seorang pendidik/guru...tapi EGP..karena inilah kenyataan yang ada..realita yang terjadi..

    tumpukkan diktat menjadi makanan siswa selama 12 tahun,tumpukan raport menjadi ganjal almari,selembar ijazah hanya sebagai pengisi pigora...karena semua itu tidak akan ada artinya jika mantan siswa terjun ke kehidupan sosial masyarakat...
    yang di butuhkan hanya skill,kemauan,SDM yg handal,dan SDM tidak akan terbentuk secara bim salabim,harus di mulai dari kecil...

    mata pelajaran ekonomi hanya sebagi hiasan,karena pasar tidak butuh diktat,pasar butuh praktek nyata...
    pelajaran elektro hanya di buat sekedar hitung2an...

    ketika kurikulum membatasi ruang gerak siswa untuk berpraktek,90% teori,10% praktek.maka kelak yg terjadi adalah 10% menjadi enterpreaeur,90% menjadi pengangguran...

Leave a Reply

jangan takut untuk berbeda,karena perbedaan itu indah|
mau komentar apa aja bebas,politik,spam,sara,sara azhary,terserah!

~new comments~

~archive~

Make Your Own by widodo